Kiai Ahmad Dahlan, Perintis Pembaharuan Pendidikan Islam

Foto untuk : Kiai Ahmad Dahlan, Perintis Pembaharuan Pendidikan Islam

Lahir di kampung Kauman, sekitaran masjid besar Yogyakarta serta di lingkungan Islam yang cukup kental juga. Itulah gambaran singkat kondisi bagaimana karakteristik keluarga dari Muhammad Darwisy, yang lahir pada tahun 1868. Sang ayah, Kiai Abu Bakar, merupakan imam khatib di masjid besar kesultanan Yogyakarta. Sedangkan sang ibu, Nyai Abu Bakar, merupakan puteri dari H. Ibrahim, seorang Hoofd Penghulu Yogyakarta.

Ilmu dan pengetahuan, terutama dalam hal bahasa arab dan agama islam menjadi benih yang terus beliau tanam dan rawat. Beranjak umur ke 15, beliau pergi ke Makkah untuk menyuburkan benih tersebut dan menunaikan ibadah haji. Kepulangannya dari Makkah, pada 1888, nama Muhammad Darwisy berganti menjadi Ahmad Dahlan. Pergantian nama tersebut, dahulu sudah menjadi adat orang Indonesia yang sudah menunaikan ibadah haji.

Pada tahun 1902, Ahmad Dahlan atau biasa dikenal Kiai Ahmad Dahlan hingga kini, kembali melaksanakan ibadah haji dan menyuburkan ilmunya. Pada kesempatan tersebut, Kiai Dahlan hanya 2 tahun menetap disana. Sehingga, pada tahun 1904 Kiai Dahlan kembali ke tanah air. Melihat keadaan dan juga ikut merasakan suasana penjajahan Belanda, pikiran serta perasaan hati Kiai Ahmad Dahlan merasakan keprihatinan dan ke was-wasan.

Dengan begitu, dengan segala pengalaman dan keilmu pengetahuan yang Kiai Dahlan punyai. Kiai Dahlan mulai melakukan pergerakan dialektis dan birokratis sebagai salah satu caranya menumpas penjajahan. Seperti upaya Kiai Dahlan untuk menjadi tenaga pengajar di Opleiding Schoolen voor Indlansche Ambtenaren (OSVIA) di Magelang. Sebuah sekolah pendidikan pegawai bumiputera yang setingkat dengan perguruan tinggi.

Selain di OSVIA, Kiai Dahlan, juga jadi tenaga pengajar di Kweekschool Jetis Yogyakarta. Sebuah isntitusi sekolah para calon guru pada masa penjajahan Belanda. Di dua sekolah pendidikan tersebut, Kiai Dahlan diperbolehkan oleh pihak Belanda untuk mengajarkan agama islam. Kesempatan tersebut menjadi jalur perjuangan yang tidak disia-siakan oleh Kiai Dahlan. Tentu, kiai dahlan berharap gagasan dan upanyanya dapat menyebar dan memperkuat dakwah Islam.

Akhirnya, pada tahun 1918, Kiai Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Yogyakarta. Madrasah tersebut juga mempunyai nama lain dahulunya, yaitu Madrasah al-Qismu al-Arqo di kampung Kauman Yogyakarta. Metodologi pembelajarannya dianggap sudah modern pada saat itu. Namun, selain itu juga, kurikulum yang diajarkan masih sangat kental dengan keilmuan pondok pesantren.

Upaya untuk mendinamiskan kurikulumpun terus diulik oleh Kiai Ahmad Dahlan ketika itu. Salah satunya dengan memasukkan kurikulum keilmuan umum. Beberapa masyarakat pada saat itu masih merasa asing dengan keberadaan madrasah tersebut. Namun, beberapa diantaranya menyambut baik keberadaannya. Karena masyarakat saat itu bisa lebih mudah mensekolahkan anaknya di sekolah, berupa madrasah dengan konsep kemodernan, kedinamisan ilmu pengetahuan dan tidak mengenal strata sosial dalam penerimaan siswa siswinya.       

Sumber bacaan dan foto:

http://www.muhammadiyah.or.id/id/2-content-156-det-kh-ahmad-dahlan.html

https://muallimin.sch.id/sejarah/

https://www.biografiku.com/biografi-kh-ahmad-dahlan/

http://www.umm.ac.id/id/muhammadiyah/16417.html

https://historia.id/politik/articles/dari-osvia-sampai-ipdn-riwayat-sekolah-para-birokrat-PML4J

PPDB
Aplikasi CBT

Ke Atas