Profile Madrasah

Madrasah Ibitidaiyah (MI) Al I’anah merupakan lembaga pendidikan tingkat dasar yang pertama di desa Duren, yang telah berdiri sejak tahun 1968.  Pembelajaran yang disajikan tidak hanya ditopang oleh mata pelajaran umum, tetapi juga berporoskan dengan mata pelajaran agama. Dari tahun ke tahun, lembaga pendidikan MI Al I’anah terus mengalami perkembangan disertai dengan mengikuti keinginan masyarakat. Sehingga, siswa dan siswi lulusannya diharapkan dapat melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi berikutnya. Maka dari itu, untuk menjawab keinginan masyarakat tersebut, MI Al I’anah telah mengikuti ujian untuk pertama kalinya pada tahun 1981.

Masyarakat menyadari bahwa pendidikan merupakan salah satu persoalan hidup dan kehidupan manusia sepanjang hayatnya, baik sebagai individu, kelompok sosial, begitu juga dalam berbangsa dan bernegara. Pendidikan sebagai salah satu bentuk karunia dari Allah SWT telah terbukti mampu mengembangkan sumber daya manusia. Serta, memiliki peran dalam mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan dari waktu ke waktu. Sehingga, kehidupan manusia mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman, tentunya juga dibarengi dengan keberadaban yang terdapat dalam nilai-nilai keagamaan.

Pendidikan menyimpan kekuatan luar biasa untuk menyeimbangkan keseluruhan aspek lingkungan hidup dan dapat memberikan informasi yang paling berharga mengenai pegangan hidup masa depan di dunia. Begitu juga, mampu membantu anak didik dalam membekali kebutuhan hidup yang esensial demi menghadapi dinamika perubahan yang terus terjadi di masyarakat. Beberapa perihal tersebut bisa diperoleh dari proses belajar secara formal di lembaga pendidikan seperti madrasah.

Keberadaan madrasah, dalam khazanah pendidikan di Indonesia merupakan salah satu fenomena budaya yang usianya sudah berkisar satu abad lebih, usia yang tidak dapat dikatakan muda lagi. Bahkan, bukanlah suatu hal yang berlebihan apabila dikatakan bahwa madrasah telah menjadi salah satu wujud dari entitas budaya Indonesia yang dengan sendirinya diaplikasikan oleh beberapa kelompok masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan tentunya, dengan penyebarannya yang bisa dikatakan cukup intensif. Dalam artian, wujud dari salah satu entitas budaya ini telah diakui dan diterima kehadirannya dalam cangkupan luas juga berkelanjutan.

Namun, setelah memasuki arus utama pembangunan bangsa pada abad ke-20 ini. Madrasah mengandung arti tempat atau wahana, di mana anak didik mengenyam proses pembelajaran. Maksudnya di madrasah itulah anak menjalani proses belajar secara terarah, terpimpin dan terkendali. Dengan demikian, secara teknis madrasah menggambarkan proses pembelajaran secara formal yang tidak berbeda dengan sekolah pada umumnya.

Madrasah dewasa ini, telah berdiri secara berdampingan dengan sistem persekolahan. Sebagian madrasah organisasinya disusun serupa dengan organisasi persekolahan. Secara tingkatan, di antarnya yaitu keberadaan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang tingkat kesederajatannya disamakan dengan Sekolah Dasar (SD). Di atas tadi merupaka gambaran sederhana mengenai untaian langkah perkembangan sistem pendidikan Madrasah dari masa ke masa.

Adapun, pendiri atau penggagas berdirinya Madarasah Ibtidaiyah (MI) Al I'anah, sekaligus sebagai kepala madrasah pertama adalah DR. H. Ahmad Jamaludin, M.Pd menjabat dari tahun pelajaran 1996/1997 – 1998/1999. Kemudian kepala madrasah berikutnya di pegang oleh H. Lili Wahyudi, S.Ag yang menjabat dari tahun pelajaran 1999/2000 – 2004/2005 beliau juga merupakan seorang Qori Internasional juara harapan di Iran. Lalu, Pada tahun pelajaran 2005/2006 sampai sekarang kepala madrasah di pegang oleh Ujang Manan, S.Pd.I., M.Si.

Pada awalnya, MI Al I’anah melaksanakan kegiatan pembelajaran pada waktu siang sampai sore hari, karena anak-anak pagi harinya belajar di Sekolah Dasar (SD). Lalu, pada tahun pelajaran 1996/1997 MI Al I’anah melaksanakan pembelajaran pada waktu pagi hari dengan siswa murni artinya anak didik tidak mengikuti pembelajaran di Sekolah Dasar (SD) dengan siswa pertama dibuka sebanyak sekitar 20 siswa.

Lalu, pada tahun ajaran 2012/2013 membentuk kelas UNGGULAN. Hal tersebut dibentuk bertujuan untuk peningkatan kualitas kemampuan siswa, diantaranya seluruh siswa unggulan mampu menghafal 1 Juz amma dan 40 Hadist pilihan. Sehingga, jumlah kelas dari tahun tesebut hingga selanjutnya lebih dinamis dan terorganisir tentunya. Hingga pada tahun pelajaran 2017/2018, jumlah siswa siswi MI Al-I’anah sudah mencapai angka 779, ini menunjukan animo masyarakat dari tahun ke tahun lebih mempercayai pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Mulai tahun 2019, sebagian kegiatan belajar mengajar MI Al I'anah sudah berpindah tempat di gedung baru. Tepatnya beralamat lengkap di Jl. H. Bakri, Dusun Kalihurip, RT.05, RW.02, Desa Duren, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Gedung baru tersebut berbentuk leter 'U' dengan dua tingkat lantai. Setelah dinyatakan rampung secara keseluruhan, gedung baru tersebut akhirnya diresmikan oleh Ibu Bupati Karawang dan Bapak Kepala Kementrian agama Karawang. Peresmian tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti. Di samping itu, peresmian gedung baru tersebut juga disaksikan oleh jajaran pengurus yayasan, para donatur dan keluarga besar MI Al I'anah. Maka dengan begitu seluruh kegiatan madrasah saat ini terpusat di gedung baru.

Untuk tahun ajaran 2019 - 2020, Jumlah siswa dan siswi yang belajar di MI Al I'anah sebanyak 811 dengan jumlah guru sebanyak 25 guru. Dengan sungguh-sungguh kita bersama-sama menitip harapan agar putra-putri bangsa yang menjadi input madrasah diolah menjadi sumber daya manusia yang memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi secara memadai, serta memiliki daya kreatifitas yang tinggi serta berbudi pekerti baik dengan dasar iman dan taqwa kepada Allah SWT. Pada gilirannya diharapkan para siswa lulusan MI Al I’anah ini sanggup menjadi sumber daya manusia Indonesia yang dapat merespon masa depan yang lebih tepat. Aamiin Yaa Robbal ‘aalamiin.

 

PPDB
Aplikasi CBT

Ke Atas